My Profile

Foto Saya
> sekarang saya bersekolah di seminari Menengah Wacana Bhakti...

Selasa, 16 November 2010

Makalah Statistika Matematika

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya, setiap seminaris dituntut untuk menghadirkan kesederhanaan dalam dirinya, baik dalam sikap maupun perbuatan. Kesederhanaan itu juga dapat timbul dari berapa banyak uang yang mereka punya selama kehidupan di seminari. Berangkat dari hal itulah, maka saya ingin mengetahui seberapa sederhanakah seminaris yang ada di Seminari Menengah Wacana Bhakti, Jakarta Selatan dengan mengamati berapa banyak uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

B. Rumusan Masalah

1. Berapa nilai rata-rata (mean) dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua?

2. Berapa modus dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua?

3. Berapa Kuartil 1, Kuartil 2,dan Kuartil 3 dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua?

4. Berapa Jangkauan, Jangkauan Antar Kuartil, dan Simpangan Kuartil dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua?

5. Apakah mereka sudah mentaati nilai kesederhanaan dalam dirinya melalui uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui nilai rata-rata (mean) dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

2. Mengetahui modus dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

3. Mengetahui Kuartil 1, Kuartil 2,dan Kuartil 3 dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

4. Mengetahui nilai Jangkauan, Jangkauan Antar Kuartil, dan Simpangan Kuartil dari uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

5. Mengamati nilai kesederhanaan yang ada pada diri mereka melalui uang yang mereka terima dari orang tua saat Hari Kunjungan Orang Tua.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Metode Pengumpulan Data

Angket adalah suatu alat pengumpul data yang berupa serangkaian per­­­­­­­­­­­­­­­­ta­­­­­­­­nya­­­­­­­­­an tertulis yang diajukan kepa­­­­­­­da subyek untuk mendapatkan jawaban secara tertulis juga.

Bagaimana Pertanyaan-Pertanyaan tersebut Disampaikan? (Format Pertanyaan)

Format pertanyaan adalah sebagai berikut:

a. Pertanyaan Langsung v.s Pertanyaan Tidak Langsung

Perbedaan mendasar antara Pertanyaan Langsung dan Pertanyaan Tidak Langsung ialah terletak pada tingkat kejelasan suatu pertanyaan dalam mengungkap informasi khusus dari responden. Pertanyaan Langsung menanyakan informasi khusus secara langsung dengan tanpa basa-basi (direct). Pertanyaan Tidak Langsung menanyakan informasi khusus secara tidak langsung (indirect); sekalipun demikian inti dari pertanyaannya adalah sama.

Contoh:

Pertanyaan Langsung: Apakah Saudara menyukai pekerjaan saat ini?

Pertanyaan Tidak Langsung: Bagaimana pendapat saudara terhadap pekerjaan yang ada saat ini?

b. Pertanyaan Khusus v.s Pertanyaan Umum

Pertanyaan Khusus menanyakan hal-hal yang khusus terhadap responden yang menyebabkan responden menjadi sadar atau tergugah sehingga yang bersangkutan akan memberikan jawaban yang kurang jujur. Sedang Pertanyaan Umum biasanya menanyakan informasi yang dicari dengan cara tidak langsung dan seacara umum, sehingga responden tidak begitu menyadarinya.

Contoh:

Pertanyaan Khusus: Apakah saudara menyukai pekerjaan mengoperasikan mesin produksi tersebut?

Pertanyaan Umum: Apakah saudara suka bekerja di perusahaan tersebut?

c. Pertanyaan Tentang Fakta v.s Pertanyaan Tentang Opini

Pertanyaan Tentang Fakta akan menghendaki jawaban dari responden berupa fakta; sedang Pertanyaan Tentang Opini menghendaki jawaban yang bersifat opini. Pada praktiknya dikarenakan responden munkin mempunyai memori yang tidak kuat ataupun dengan sadar yang bersangkutan ingin menciptakan kesan yang khusus; maka Pertanyaan Tentang Fakta belum tentu sepenuhnya menghasilkan jawaban yang bersifat fakta.

Demikian halnya dengan pertanyaan yang menanyakan opini belum tentu sepenuhnya menghasilkan jawaban yang mengekspresikan opini yang jujur. Hal ini terjadi karena responden mendistorsi opininya didasarkan pada adanya “tekanan sosial” untuk menyesuaikan diri dengan keinginan social dan lingkungannya.

Contoh:

Pertanyaan Tentang Fakta: Apakah merek mobil yang saudara punyai saat ini?

Pertanyaan Tentang Opini: Mengapa saudara menyukai mobil merek Honda?

d. Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Tanya v.s. Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Pernyataan

Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Tanya memberikan pertanyaan langsung kepada responden; sedang Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Pernyataan menyediakan jawaban persetujuannya.

Contoh:

Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Tanya: Apakah saudara setuju dengan kenaikan harga BBM?

Pertanyaan Dalam Bentuk Kalimat Pernyataan: Harga BBM akan dinaikkan. Jawabannya: a. setuju b. tidak setuju

Bagaimana Pertanyaan Harus Dijawab

Pada bagian ini dibahas model-model cara menjawab pertanyaan :

a. Jawaban Tidak Berstruktur

Model jawaban ini tidak berstruktur biasanya juga disebut sebagai pertanyaan terbuka. Jawaban ini memeberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab pertanyaan secara bebas dan mengekspresikan pendapatnya.

Keuntungan menggunakan model jawaban ini ialah peneliti dapat memperoleh informasi secara lengkap dari responden; sekalipun demikian model ini mempunyai kelemahan-kelemahan diantaranya ialah pihak peneliti akan menagalami kesulitan dalam mengolah informasi karena banyaknya informasi data. Disamping itu pemgolahannya banyak memakan waktu dan peneliti akan kesulitan dalam proses scoring.

Contoh:

Ceritakan perasaan anda menegnai masalah kenaikan harga BBM

Apa pendapat anda mengenai kenaikan harga BBM?

b. Jawaban Isian

Model jawaban ini merupakan bentuk transisi dari tidak terstruktur ke model jawaban pertanyaan terstruktur. Meski responden diberi kesempatan untuk memberikan response terbuka tetapi terbatas karena model pertanyaannya.

Contoh:

Apa pekerjaaan Saudara?

Dari universitas mana Saudara lulus?

c. Jawaban Model Tabulasi

Model jawaban ini mirip dengan jawaban isian tetapi lebih terstruktur karena responden harus mengisikan jawaban dalam suatu table. Bentuk table seperti ini memudahkan peneliti mengorgnaisasi jawaban yang kompleks.

d. Jawaban Bentuk Skala

Model jawaban ini merupakan model jawaban terstruktur lain dimana responden diminta mengekspresikan persetujuan atau perolehannya terhadap pertanyaan yang diberikan.

e. Jawaban Membuat Ranking

Model jawaban ini meminta responden meranking beberapa pernyataan berdasarkan tingkat kepentingan dalam bentuk urut-urut-an didasarkan atas prioritas. Hasilnya peneliti akan memperoleh data yang bersifat ordinal.

Contoh: ranking kegiatan-kegiatan ini dalam kaitannya dengan peluncuran produk baru :

melakukan riset pasr

membuat produk

merancang produk

mengiklankan produk

meluncurkan produk

f. Jawaban Bentuk Checklist

Jawaban checklist meminta responden menjawab dengan memilih salah satu dari jawaban-jawaban yang memungkinkan yang telah disediakan. Bentuk jawaban tidak dalam bentuk skala tetapi berbentuk kategori nominal. Bentuk seperti ini banyak menghemat waktu baik bagi responden maupun peneliti.

Contoh: Jenis pekerjaan yang paling anda sukai?

(1) pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan saya sehingga saya dapat bekerja secara optimal.

(2) pekerjaan yang memaksa saya bekerja dengan keterbatasan kemampuan saya.

(3) pekerjaan yang banyak menghasilkan uang meski tidak sesuai dengan kemampuan saya.

g. Jawaban Kategorikal

Model jawaban ini mirip dengan jawaban checklist, tetapi bentuknya lebih sederhana dan hanya memberikan dua alternatif jawaban. Jawaban seperti ini akan memberikan data yang bersifat nominal.

Contoh:

Apakah anda seorang yang bekerja keras? a. ya b. tidak

Bekerja secara disiplin dan teratur itu baik. a. benar b. salah

Memilih Model Jawaban

Membuat pertanyaan berdasarkan model jawaban memerlukan pertimbangan berdasarkan pada tipe data yang kita butuhkan dan juga pertimbangan keuntungan dan kerugiannya.

Berdasarkan model jawaban peneliti dapat juga menentukan data yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan skala pengukurannya.

Contoh:

Bagaimana pendapat Saudara mengenai kenaikan harga bahan pokok makanan?

Model Jawaban yang menghasilkan jenis data berskala nominal

a. setuju b. tidak setuju

Model Jawaban yang menghasilkan jenis data berskala ordinal

a. sangat tidak setuju b. tidak setuju c. netral d. setuju e. setuju sekali

Model Jawaban yang menghasilkan jenis data berskala interval

1 10

Tidak setuju Setuju

Berapa kenaikan harga bahan pokok yang Saudara setujui

Model Jawaban yang menghasilkan jenis data berskala interval

a. 2 % b. 4% c. 6% d. 8% e.10%

Berapa harga tiket kereta api Bandung – Jakarta yang Saudara inginkan untuk kelas bisnis dan eksekutif?

Model Jawaban yang menghasilkan jenis data berskala ratio

Kelas Eksekutif

Kelas Bisnis

a. Rp.60.000

Rp.40.000

b. Rp.80.000

Rp.40.000

c. Rp.120.000

Rp.40.000

B. Metode Analisis Data

1. Nilai Rata-Rata ( Mean )

Hasil penjumlahan nilai-nilai anggota sebuah kelompok (∑Xn) dibagi jumlah anggota kelompok tersebut.

( untuk data tunggal )

( untuk data berkelompok )

http://4.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R_R_ECc9xCI/AAAAAAAAAE8/RwiWhIWtTwI/s320/mean+2.gif

2. Nilai Terbanyak ( Modus )

Xmod = TBmod + ( ▲1 ) / (▲1 + ▲2 ) ( p )

Ket : ▲1 = frekuensi kelas modus – frekuensi kelas sebelumnya

▲2 = frekuensi kelas modus – frekuensi kelas setelahnya

P = panjang interval

Data yang paling sering muncul, atau data yang mempunyai frekuensi terbesar. Jika semua data mempunai frekuensi yang sama berarti data-data tersebut tidak mempunyai memiliki modus, tetapi jika terdapat dua yang mempunyai frekuensi terseut maka data-data tersebut memiliki dua buah modus, dan seterusnya.

3. Kuartil Data Berkelompok

Qi = TBQi + {( i /4 x N - ∑fQi ) / fQi } ( p )

a. Kuartil 2 ( Median )

Nilai tengah dari data-data yang terurut.

Ada dua cara menentukan median:

- Jika jumlah data adalah ganjil, maka nilai mediannya adapat ditentukan dengan rumus :

Index Median = ((n-1)/2+1

Median=datake-(Index Median)

- Jika jumlah data genap, maka median dapat ditentukan dengan rumus :

I= n/2
Median= (datake-(I) + data ke-(I+1))/2

b. Kuartil 1

Nilai tengah dari kuartil 2 ( median ) ke arah bawah atau sebelum kuartil 2.

c. Kuartil 3

Nilai tengah dari kuartil 2 ( median ) ke arah atas atau setelah kuartil 2.

4. Jangkauan

Jangkauan = Xmax – Xmin

Selisih antara nilai tertinggi dengan nilai terendah.

5. Jangkauan Antar Kuartil

Jangkauan Antar Kuartil = Q3 – Q1

Selisih antara Kuartil 3 dengan Kuartil 1.

6. Simpangan Kuartil

Simpangan Kuartil = ½ x Jangkauan Antar Kuartil

Nilai yang didapat dari ½ x Jangkauan Antar Kuartil.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang telah didapatkan melalui pengisian angket di komunitas seminaris Seminari Menengah Wacana Bhakti, didapatkan hasil penelitian berupa tabel seperti berikut :

B. Analisis Hasil Penelitian

1. Nilai Rata-Rata ( Mean )

http://4.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R_R_ECc9xCI/AAAAAAAAAE8/RwiWhIWtTwI/s320/mean+2.gif

30

Mean = 1.825.000 = 60.833,33

2. Nilai Terbanyak ( Modus )

Xmod = TBmod + ( ▲1 ) / (▲1 + ▲2 ) ( p )

= 49.500 + ( 15-8 ) / {( 15-8 ) + ( 15-4 )} ( 20.000 )

= 49.500 + 7.777,78

= 57.277,78

3. Kuartil 2 ( Median )

Q2 = TBQ2 + {(1/2 x N - ∑fQ2 ) / fQ2 } ( p )

= 49.500 + {( 15 – 8 ) / 15 } ( 20.000 )

= 49.500 + 9.333,33

= 58.833,33

4. Kuartil 1

Q1 = TBQ1 + {(1/4 x N - ∑fQ1 ) / fQ1 } ( p )

= 29.500 + {( 7,5 – 0) / 8 } ( 20.000 )

= 29.500 + 18.750

= 48.250

5. Kuartil 3

Q3 = TBQ3 + {(3/4 x N - ∑fQ3 ) / fQ3 } ( p )

= 49.500 + {( 22.5 – 8 ) / 15 } ( 20.000 )

= 49.500 + 19.333,33

= 68.833,33

6. Jangkauan

Jangkauan = Xmax – Xmin

= 109.000 – 30.000

= 79.000

7. Jangkauan Antar Kuartil

Jangkauan Antar Kuartil = Q3 – Q1

= 68.833,33 – 48.250

= 20.583,33

8. Simpangan Kuartil

Simpangan Kuartil = ½ x Jangkauan Antar Kuartil

= ½ x 20.583,33

= 10.291,665

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian terhadap seminaris Seminari Menengah Wacana Bhakti dengan cara pengisian angket, maka dapat disimpulkan bahwa para seminaris memang benar-benar menanamkan nilai kesederhanaan dalam kehidupan mereka. Hal ini dibuktikan dengan data yang menunjukkan bahwa mereka rata-rata mempunyai uang saku sebanyak Rp 60.000,00. Uang ini biasanya mereka pergunakan untuk membeli keperluan mereka di seminari, misalnya untuk membeli buku, alat tulis, alat mandi, dan sabun cuci serta untuk keperluan ambulatio (jalan-jalan). Uang sebanyak ini cukup untuk membiayai semua itu. Untuk keperluan pembayaran uang sekolah dan uang seminari, biasanya dibayarkan oleh orang tua sehingga para seminaris tidak memegang uang yang lebih. Sebenarnya, para seminaris diwajibkan hanya boleh memiliki uang saku sebesar Rp 35.000,00 tetapi dengan uang saku sebesar Rp 60.000,00 tersebut juga tidak menjadi masalah bagi mereka. Menurut mereka, uang Rp 35.000,00 masih kurang untuk membeli keperluan di seminari mengingat harga-harga pada saat ini membumbung tinggi. Maka, mereka pun menambah uang saku mereka sesuai dengan kebutuhan untuk membeli keperluan-keperluan mereka di seminari. Hal ini juga lah yang menjadi salah satu bukti kesederhanaan hidup mereka.

B. Saran

Saran yang dapat saya berikan, khususnya untuk para seminaris Seminari Menengah Wacana Bhakti, adalah :

· Hendaknya para seminaris memakai uang saku yang mereka miliki dengan sebaik mungkin, jangan sampai uang tersebut habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dalam masa formatio mereka di seminari.

· Hendaknya para seminaris tidak terlalu sering ijin keluar, khususnya ijin keluar hanya untuk refreshing semata karena hal tersebut akan membuat pengeluaran yang tidak teratur dan banyak uang habis dengan sia-sia.

· Hendaknya para seminaris tidak terlalu sering untuk ijin pergi ke warnet ( warung internet ) dengan alasan untuk membuka akun mereka pada situs jejaring sosial, seperti facebook atau twitter, mengingat pada saat ini sedang marak-maraknya situs-situs jejaring sosial. Seharusnya para seminaris dapat menahan diri untuk membuka akun tersebut sampai jadwal ambulatio tiba, yaitu pada hari Minggu ke-4.

· Hendaknya para seminaris dapat memanfaatkan waktu ambulatio dengan baik sehingga tidak banyak mengeluarkan uang untuk kepentingan hiburan semata.

· Hendaknya para seminaris membuat laporan keuangan, baik pemasukan uang saku yang didapat dari orang tua maupun pengeluaran uang saku sehabis membeli keperluan seminari sehingga mereka mengetahui boros atau tidaknya mereka dalam mengelola uang saku mereka. Dengan hal ini juga, mereka dapat belajar untuk hidup mandiri.

· Menabung adalah alternatif terbaik daripada menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Dengan menabung, para seminaris dapat hidup sederhana.

· Sebaiknya para seminaris memiliki uang saku yang memang diperbolehkan oleh seminari, yaitu sebesar Rp 35.000,00. Jika hal itu dirasa kurang, para seminaris dapat menambah uang saku mereka, maksimal Rp 60.000,00.

· Hendaknya para seminaris tetap berpegang teguh dalam semangat kesederhanaan. Membeli keperluan yang benar-benar penting, perlu, dan berguna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sahabat