My Profile

Foto Saya
> sekarang saya bersekolah di seminari Menengah Wacana Bhakti...

Selasa, 16 November 2010

Renungan

Bacaan dari Matius 18 : 21-35

Renungan

Pernahkah teman-teman mengampuni orang-orang yang bersalah kepada teman-teman? Coba tanyakan dan refleksikan pada diri sendiri, kapan aku pernah mengampuni orang lain? Seberapa seringkah aku mengampuni orang lain yang bersalah kepadaku? Jika jawabannya pernah dan sering, berarti teman-teman telah mengetahui apa itu arti mengampuni bagi sesama. Tetapi jika jawabannya jarang atau mungkin belum, berarti teman-teman masih perlu menghayati arti pengampunan.

Mengampuni orang lain sama dengan mengasihi orang lain. Orang yang tidak pernah mengampuni orang lain, berarti juga tidak pernah mengasihi orang lain dengan segenap hati. Kasih yang kita berikan kepada sesama hanya dapat kita buktikan dengan pengampunan. Tanpa pengampunan, tidak akan pernah ada kasih yang sesungguhnya.

Pengampunan itu benar-benar indah. Apa yang akan kita dapatkan jika kita dapat mengampuni orang lain? Tentu banyak, yang jauh didekatkan, yang rusuh dirukunkan, dan yang berat diringankan. Di zaman yang semakin modern ini, orang-orang mulai susah untuk mengampuni orang lain, entah karena malu atau gengsi belaka. Tetapi jauh dari semua alasan itu, pengampunan memang benar-benar indah. Pengampunan itu sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Dengan menyadari bahwa tidak perlu menyimpan rasa sakit hati dan juga menyadari bahwa orang lain juga mempunyai hak dan perlu untuk diampuni, kita dapat mengampuni orang lain dengan tulus ikhlas.

Dalam Injil, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mengampuni orang lain sebanyak ”tujuh puluh kali tujuh kali....”. Maksudnya, agar kita tetap mengampuni sesama selama-lamanya dan tak terbatas. Yesus menginginkan kita untuk tetap bisa mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, bagaimanapun keadaannya. Sebab Yesus pun telah mengasihi kita, umat-Nya. Sudah selayaknya kita sebagai umat yang dikasihi-Nya, dapat membagikan kasih yang kita miliki kepada sesama kita, meskipun mereka bersalah kepada kita, seberapa besar pun kesalahannya. Salah satu cara adalah dengan mengampuni mereka.

Kita sebagai seminaris, hendaknya dituntut untuk dapat berbuat baik kepada sesama kita meskipun mereka bersalah kepada kita atau bahkan ketika mereka tidak membalas kebaikkan kita. Jangan biarkan perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan oleh sesama kita dapat melunturkan perbuatan baik kita. Orang yang benar-benar baik, akan banyak menggunakan waktunya untuk berbuat baik kepada orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sahabat